Mencermati Format Debat Pilkada

Training Komunikasi Sampit, Kalteng.

Mencermati video debat pemilihan kepala daerah (Pilkada) di satu provinsi dengan  durasi selama hampir dua setengah jam, dapat menyimpan berbagai persepsi dan kesimpulan. Dari pandangan sebagai praktisi komunikasi, kayaknya  lebih penting adalah format penyelenggaraaan debat itu.  Terlepas dari kontens pembicaraan dari masing-masing kandidat atau perkara lain yang sifatnya politis.

Format debat yang dimulai dengan paparan visi misi kandidat yang hanya sekira dua menit 30 detik terasa amat sangat terlalu singkat. Dengan waktu seperti ini, apalagi dengan thema debat yang begitu luas – bahkan amat lebar, visi misi dan program para kandidat tidak tereksplore secara jelas dan utuh. Padahal,  kandidatnya cuma dua pasang alias head to head. Bahkan  gagasan para kandidat seakan “tenggelam” oleh pertanyaan dari dalam amplop yang terkesan seperti bukan debat,  tetapi lebih kepada ujian di kampus.

Dengan alokasi siaran langsung yang sepanjang tersebut, mestinya masing-masing kandidat diberi kesempatan menyampaikan visi misi dan programnya terkait “judul debat” paling tidak sekitar 15 sampai 20 menit. Waktu ini sesuai dengan kemampuan fokus manusia dalam menyimak sebuah presentasi. Sebagaimana prinsip presentasi 10-20-30 yang diusung Guy Kawasaki, pakar komunikasi asal Jepang yang juga merupakan orang penting dalam kesuksesan Apel.

Logikanya, kalau masing-masing pasangan kandidat diberi waktu 20 menit untuk presentasi, total waktunya hanya 40 menit. Kalau dialokasikan waktu dua jam, maka masih ada waktu tersisa 80 menit untuk berdebat atau saling uji visi misi dari masing-masing kandidat.  Artinya masing-masing kandidat mempunyai waktu 30 menit untuk mempertahankan gagasan masing-masing dalam upaya para kandidat menawarkan gagasan yang terbaik untuk kemajuan daerahnya.

Baca Juga  Berani Nggak Presentasi Sendiri?

Jadi setelah presentasi 20 menit, pasangan kandidat yang mempresentasikan visi misinya, berargumen dengan pasangan lainnya. Dengan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri sesuai thema dan sesuai dengan kemampuan masing-masing pasangan. Sebab selain kemampuan berpresentasi, seorang pemimpin juga dituntut untuk bertanya atau mempertanyakan sesuatu. Kita tahu, kekuatan bertanya merupakan kekuatan andalan dalam coaching. Dengan demikian, tidak perlu dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan dari pihak lain. Tugas moderator menegur kalau debat diluar konteks atau melenceng dari thema.

Agak mengejutkan juga ketika  pasangan kandidat menjawab “soal” dari para akademisi yang bisa jadi adalah pegawai negeri. Konon, pertanyaaan dalam amplop itu dalam rangka pendalaman visi dan misi. Menjawab soal ini disediakan waktu selama dua menit. Lalu ditanggapi pasangan pesaingnya, yang waktunya juga dibatasi selama satu menit tiga puluh detik. Lebih singkat. Dan ditanggapi lagi oleh pasangan lain, dengan waktu selama satu setengah menit. Lha, yang harusnya menanggapi kan yang bikin soal? Tetapi begitulah format debatnya.

Sesuai namanya “debat publik” dan disiarkan langsung secara luas, maka sebenarnya yang ingin dilihat pemilih alias konstituen bukan sekedar visi misi dan program para kandidat, tetapi juga menyangkut kompetensi masing-masing kandidat dalam priode kepemimpinan ke depan. Dan seperti kita tahu, kompetensi menyangkut tiga hal yang saling terkait yakni knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan atau kecakapan), dan attitude (sikap).

Dalam hal ini, konstituen akan menilai mana gagasan yang sifatnya normatif semata dan mana yang praktikal dari sisi visi misi dan program yang ditawarkan. Sementara dari sisi lain, sikap dan emosi para kandidat juga akan diperhatikan, termasuk gesture dan cara bicara, termasuk pemilihan kata (diksi) yang menggambarkan attitude dari masing-masing kandidat. Dengan kata lain, apa yang tersurat dan tersirat dalam debat itu semuanya satu kesatuan yang menjadi perhatian konstituen. Inilah pentingnya memberi waktu yang panjang bagi pasangan kandidat untuk mempresentasikan visi misi dan program mereka.

Baca Juga  Integritas

Cukup memusingkan untuk membandingkan kemampuan kedua pasang kandidat dalam “menguasai” sebuah masalah pada debat tahap pertama tersebut. Sebab pertanyaan yang harus dijawab oleh masing-masing pasangan tidak sama. Daftar soal yang diberikan tidak sama. Logikanya, untuk membandingkan apel haruslah dengan apel juga. Bukan apel dengan tomat, atau tomat dengan buah rimbang, misalnya.

Terbayang kemudian, bagaimana kalau pasangan debat itu lebih dari dua, misalnya ada empat pasang kandidat, seperti yang ada di beberapa provinsi lain atau pun kabupaten di Indonesia. Ya.. tinggal mengurangi waktu presentasinya menjadi sekitar 15 menit dan  acara adu argumennya menjadi masing-masing 15 menit. Jadi 30 menit kali empat pasangan, menjadi 120 menit alias dua jam. Dengan acara dengan alokasi waktu hampir 2,5 jam. Maka setengah jam cukuplah  untuk sambutan-sambutan atau seremonial lainnya.

Akhirnya, marilah kita menyadari bahwa demokrasi adalah sebuah proses. Termasuk proses perbaikan dalam mensosialisasikan kepemimpinan dan visi misi program yang satu diantaranya adalah melalui debat publik. Mudahan artikel ini bermanfaat dan dapat menjadi masukan untuk kemajuan kehidupan berbangsa, termasuk kualitas pilkada di negeri tercinta.

 

Jadi jika perusahaan atau Instansi Anda memerlukan pelatihan komunikasi, baik effective leadership communication, public speaking, atau pun teknik presentasi, silakan menghubungi kontak kami. Fasilitator dan staf di lembaga kami senang sekali bekerjasama dengan Anda. Tidak hanya di Kalteng, Kaltim, atau Kalsel, tetapi juga di seluruh provinsi di Indonesia. Tidak hanya di Palangkaraya, Sampit, atau Banjarmasin. Tetapi juga di Pangkalan Bun, Banjarbaru, Martapura, Balikpapan, Samarinda, Manado, Medan, Makassar, Pelaihari, Buntok, Kuala Pembuang, Mataram, Kuala Kapuas, Kendari, Jakarta, Malang, Surabaya, Batu, dan kota lainnya di seluruh nusantara.

Baca Juga  Benarkah Karyawan Memerlukan Training?

Salam hebat bermanfaat

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *