
Suatu hari teman saya bertanya kepada saya, kenapa mau bayar mahal untuk sebuah pelatihan? Apakah uang yang saya gunakan untuk membayar pelatihan itu bakal kembali?… Dia tidak habis fikir, bagaimana saya mesti keluar uang banyak untuk kontribusi pelatihan, tiket pesawat, penginapan, dan sebagainya. Menurut dia akan lebih berguna kalau uang itu dibelikan barang atau ditabung. Nanti kalau uangnya banyak bisa beli tanah atau mobil. Ini investasi, katanya.
Saya hanya tertawa. Teman tadi lebih suka investasi dalam bentuk natura atau benda. Dan saya sebenarnya investasi juga. Saya investasi juga. Investasi untuk leher ke atas. Investasi untuk fikiran dan kemampuan saya. Memang tidak terlihat seperti halnya kalau kita beli barang katakanlah baju atau sepatu, akan tetapi akan terasa bahwa kita mempunyai penambahan kemampuan setelah mengikuti satu training atau pelatihan.
Nilai manfaat dalam pelatihan itu terletak pada tiga hal menurut saya, pertama bagaimana memilih pelatihan atau training yang memang kita perlukan. Jadi pastikan bahwa training yang akan kita ikuti akan mendukung tujuan kita ……(ssstttttt…tentang ini ikuti artikel berikutnya tentang well framed outcome.. bagaimana membuat hasil akhir yang tertata… setelah kita menentukan tujuan yang ingin dicapai).

Kemudian yang kedua adalah pastikan bahwa fasilitator atau trainernya berpengalaman dan kompeten. Ini untuk memastikan bahwa uang yang kita keluarkan tidak sia-sia. Dan di Indonesia, untuk memastikan ini, maka selayaknya yang memandu atau menjadi narasumber workshop atau training tersebut memiliki sertifikat kompetensi resmi dari negara. Setidaknya, apabila seseorang telah memiliki ini, berarti dia telah melewati ujian kompetensi dan lulus. Di Indonesia, sertifikat kompetensi resmi dikeluarkan oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) yang tidak hanya diakui secara nasional tetapi juga internasional…
Adapun yang ketiga adalah bahwa ilmu ataupun keterampilan yang diperoleh selama training atau workshop itu kudu dipraktekkan. Kalau cuma ikut training tetapi tidak dipraktekkan… maka menjadi sia-sia. Istilah Magelangnya, percun tak bergun. Percuma dan tidak berguna. Dalam bahasa lain, saya mau bilang. Ikut trainingnya sekali. Belajarnya berkali kali. Mempraktekkannya setiap kali.
Apakah investasi yang saya tanamkan untuk ikut training sudah kembali? Jawabannya sangat simpel.. investasi itu sudah kembali sesaat setelah selesai ikut training. Kita dapat fasilitas sesuai dengan yang kita bayar. Ilmu… itu sesuatu yang harus kita hargai bahkan untuk diri kita sendiri. Ilmu menjadi aplikatif jika diaplikasikan. Ilmu yang “mahal” akan menghasilkan sesuatu yang berharga… ilmu yang gratisan cenderung menghasilkan sesuatu yang gratisan juga.
Setidaknya saya sudah praktekkan apa yang ditulis seorang trainer dari Malang. Buka dompetmu untuk mengisi otakmu. Kelak jika otakmu terbuka… itu akan mengisi dompetmu. Silakan coba…
Norman Ahmadi
Training dan Outbounder
(Borneo Development Centre)