Outbound Sampit, Kalteng.
Seorang fasilitator outbound berhadapan dengan beragam peserta yang berbeda-beda latar belakangnya. Baik dari segi asal lembaganya, seperti instansi, perusahaan atau pun organisasi lainnya. Juga berbeda asal daerah, jenis kelamin, umur, jabatan, tingkat pendidikan, dan sebagainya.
Demikian juga dikaitkan dengan tujuan mengadakan kegiatan outbound. Mulai dari yang senang-senang saja sampai ke tujuan yang serius yakni pelatihan. Ini semua memerlukan teknik pendekatan tertentu dan keluwesan dalam berkomunikasi.
Dalam konteks ini teknik komunikasi NLP (Neuro Linguictic Programming) dapat digunakan. Beberapa teknik NLP yang dipelajari dalam hal ini diantaranya adalah Building Rapport, Sub Modality (Vakog), Motivasi, Sensory Acuity, dan Perceptual Position.
Dalam tulisan kali ini. Kita akan fokus pada building rapport alias membangun kedekatan. Ini sangat penting terutama apabila terdapat gap atau perbedaan yang cukup besar antara fasilitator outbound dengan pesertanya. Baik yang menyangkut budaya, posisi sosial, ataupun lainnya.

Rapport merupakan ‘tool’ atau alat yang sangat berguna untuk memulai komunikasi dan menjalin hubungan, terutama dengan orang yang baru kita kenal atau pun untuk mendekati orang yang “sulit”.
Dengan kata lain, rapport adalah cara atau teknik membangun kedekatan dengan seseorang atau sekelompok orang. Cara membangun rapport dilakukan dengan mengikuti (pacing), matching/mirroring lawan bicara serta leading melalui fisiologi, kualitas suara, dan bahasa/kata-kata.
Pacing dan mirroring dilakukan dengan menyamakan postur dan gestur peserta kebanyakan. Misalkan.. saat peserta sedang duduk, maka pertama fasilitator harus duduk juga untuk menyamakan posisi dengan peserta. Setelah bersama duduk dan ada kesamaan frekuensi pikiran misalnya sudah terasa akrab, barulah fasilitator berdiri untuk menyampaikan sesuatu. Ini akan mudah membangun keakraban daripada saat peserta duduk, ujug-ujug fasiltator datang menyampaikan instruksi atau materi.
Fisiologi meliputi pola nafas, postur, bahasa tubuh, ekpresi wajah, gerakan tangan, gerakan mata, dan lain-lain. Rapport mengikuti kualitas suara melalui tinggi rendah, cepat lambat, volume, warna suara, dan lain-lain.
Sedangkan bahasa melalui penggunaan kata-kata sesuai representational system (preferensi komunikasi melalui indera manusia), kata-kata khas dan lain-lain. Gunakan semua pendekatan sub-modality peserta yakni visual, auditory, dan kinestatik sehingga semua peserta dapat didekati sesuai dengan kecenderungan komunikasi dan gaya belajar mereka.
Di Borneo Development Centre, untuk mempermudah pemahaman peserta akan materi outbound, pendekatan komunikasi oleh fasilitator menggunakan teknik NLP. Selain itu BDC juga menyelenggaraakan pelatihan NLP Practitioner dan NLP terapan, baik secara reguler, inhouse training, maupun private.