MENGUASAI TEKNOLOGI ATAU DIKUASAI TEKNOLOGI?

Sampit Training dan Outbound, Kalteng.

Bagaimana rasanya hidup tanpa gadget? Merasa nyaman-nyaman saja, atau merasa ada sesuatu yang kurang? Merasa terikat dengan handphone pintar? Atau biasa-biasa saja tanpanya? Maka lihatlah jadual keseharian kita. Berapa jam kita bercengkerama dengan pasangan atau orang dekat kita, seperti anak, tetangga, atau teman lama? Lebih banyak mana dengan gadget?

Oke, bagaimana seandainya kita berada di zona blank spot selama beberapa hari… tanpa handphone cerdas, tanpa gadget, dan apa yang terjadi pada tubuh dan fikiran kita?

Jurnalis Match Richtel mencoba mengetahui akan hal ini. Bersama sekelompok ilmuwan, dia pergi ke tempat yang terpencil. Tidak ada signal (sinyal) sama sekali. Mereka juga nggak bawa gadget… dan apa yang mereka dapat?

Diperlukan tiga hari untuk melewati rasa gelisah karena tidak memegang handphone atau gadget lainnya. Untuk kemudian menjadi lebih rileks. Mereka menjadi lebih santai, dapat tidur lebih nyenyak, dan tidak merasa tergesa-gesa lagi. Mereka menjadi dapat berfikir sebelum bertindak. Dari sini kemudian difahami bahwa handphone memberi dampak lain yang tidak kita sadari, ketergesaan.

Kita tidak menyadari bahwa ketidakmampuan kita mengelola interaksi dengan gadget, yang terutama handphone dengan baik, sudah membuat dia menguasai kita. Bukan sebaliknya. Efek ketergesaan ini hanyalah efek yang ringan sebenarnya, sebab pada dasarnya manusia memang cenderung bergegas alias terburu-buru.

Efek lain dari handphone cerdas adalah efek terhdap aktivitas sosial kita. Maka banyak pihak yang mencoba mengatasinya. Misalnya ada sepasang suami isteri pekerja kantoran, yang sepakat mematikan handphone ketika sampai di rumah. Ini berhasil baik, namun dikecam oleh pimpinan dan rekan kerjanya karena sulit dihubungi.

Hubungan sosial dalam dunia maya, sebagaimana aslinya, tidak memberikan dukungan psikis yang bagus. Alias tidak membahagiakan sebagaimana di dunia nyata. Lebih jauh bahkan membuat orang kesepian dan selalu ingin mencari perhatian.

Baca Juga  10 Faktor Pendorong Sukses

Inilah dampak handphone lainya yang dinamakan  adanya perasaaan bermakna yang semu. Inilah yang dalam istilah sehari-hari disebut sebagai “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’. Ini bahkan dalam hal lebih jauh bisa membuat halunisasi dan perubahan perilaku. Dunia maya bahkan menjadi semacam pelarian atau tempat mencari perhatian dari dunia nyata yang tampak suram dan dirasa makin egois.

Kalau sudah begini, apa yang sebenarnya terjadi. Kita yang menguasai teknologi, ataukah teknologi yang menguasai kita. O, ya.. by the way..btw.. berapa jam sehari waktu Anda habis di depan gadget? Apakah ia sudah merampas kebersamaan Anda dengan orang-orang dekat? Atau bahkan ia telah merampas waktu produktif Anda?

Mungkin saatnya kita outbound.. Ayo kontak kami.

18 April 2020

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *