Training Need Analysis

ANALISA KEBUTUHAN PELATIHAN

Sebuah organisasi, entah itu perusahaan, instansi, atau apa pun…. selalu dihadapkan pada tantangan baru. Baik karena perubahan internal, maupun perubahan eksternal. Perubahan ini adakalanya tidak cukup disikapi dengan penataan organisasi,  tetapi dengan peningkatan kapasitas organisasi.  Satu diantaranya adalah mengembangkan sumberdaya manusia melalui pelatihan atau training.

Namun demkian, pelatihan yang asal-asalan  dan tidak punya konsep yang jelas, tidak banyak berdampak pada peningkatan kapasitas organisasi, apatah lagi kinerja organisasi. Oleh karenya, perlu dilakukan sebuah analisa tentang apakah memang diperlukan  training atau tidak. Bagian mana yang harus ditraining, personelnya siapa. Lalu pelatihan bidang apa atau subbidang apa. Bagaimana metode pelatihannya, dilaksanakan sendiri, inhouse training, training di lembaga pelatihan, dan seterusnya.

Semua sangat tergantung pada kebutuhan organisasi, apa yang ingin dicapai, termasuk ketersediaan anggaran untuk training. Dan sesuai dengan prinsip ekonomi bahwa bagaimana memanfaatkan sumberdaya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas, diperlukan perencanaan yang terarah dan terukur untuk melaksanakan kegiatan training. Adapun bahan utama untuk itu adalah analisa kebutuhan pelatihan alias training need analysis {TNA).

Secara definitif dapat dikatakan bahwa TNA adalahproses identifikasi dan analisa  tentang kebutuhan pelatihan atau pengembangan potensi sumberdaya manusia di dalam organisasi. Entah itu perusahaan, instansi, lembaga,dan sejenisnya. Tujuan TNA adalah untuk mencapai kinerja organisasi dengan melaksanakan training yang efektif.

Yang utama diperhatikan biasanya adalah menghadapi kesenjangan kapasitas antara yang diharapkan dengan kinerja yang ada. Misalnya ketika ada aturan atau kebijakan baru, adanya peralatan atau teknologi baru, atau bisa juga karena adanya pergeseran karyawan baik karena mutasi atau pun promosi. Termasuk yang menjadi acuan adalah bagaimana kebutuhan pasar dan kompetitor yang terus bergerak mencari inovasi. Apabila ini tidak disikapi dengan benar, maka bagi perusahaan dapat menggerus pasar atau menggerus profit. Sedangkan bagi organisasi nirlaba adalah tidak terlayaninya dengan baik kebutuhan customer ataupun gagapnya organisasi menghadapi perubahan.

Baca Juga  Bumdes Maju dimulai dari SDM-nya

Dengan kata lain kebutuhan training, mutlak bagi organisasi. Selanjutnya agar training itu efektif dan sesuai kebutuhan maka perlu dibuat analisanya. Seperti dikatakan Alvin Toffler, buta huruf di abad ke—21 bukanlah karena tidak bisa baca tulis. Buta huruf di abad 21 adalah individu atau organisasi yang tidak mau belajar, tidak mampu untuk belajar, dan tidak mau belajar lagi atas apa yang telah dipelajarinya. Pada akhirnya, organisasi yang mampu bertahan menghadapi berbagai gejolak dan tantangan bukanlag organisasi yang paling kuat, tetapi yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan. Are you ready?

Norman AhmadiTrainer dan Outbounder (Borneo Development Centre)

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *