Training Karyawan : Cacat Produksi atau Cacat Pemakaian?

Training Karyawan Sampit, Kalteng

Dalam sebuah diskusi dengan manajer training centre sebuah perusahaan multinasional, kami menemukan dua istilah berkenaan dengan adanya karyawan yang berperilaku seperti ”yang tidak diharapkan”. Kedua istilah itu adalah “cacat produksi” dan “cacat pemakaian”. Sebuah istilah yang sebenarnya kurang begitu tepat karena dapat dipersepsikan menyamakan manusia dengan barang, namun istilah ini lebih mendekati realitas.

Istilah itu juga mengeliminasi kemungkinan buruknya rekrutmen pegawai atau karyawan yang terpolusi oleh politik kantor atau kepentingan pribadi pihak tertentu yang kadang-kadang diselipkan dalam organisasi, baik perusahaan maupun instansi. Maklumlah, menjelang atau dalam suasana general election,  selalu ada saja ”oknum” yang memanfaatkan situasi. Hehehe…

Jadi anggap saja dalam tulisan ini, karyawan atau pegawai direkrut dengan benar sengan seleksi yang benar. Lalu jika setelah itu penyiapan karyawan atau pegawai melalui pelatihan, training, ataupun itu istilahnya, disinilah kita memasuki yang namanya “proses produksi.” Dimana karyawan diberi bekal pelatihan yang diharapkan dengan bekal itu, mereka siap bekerja sesuai dengan tugas, fungsi, dan tanggungjawabnya.

Proses penyiapan ini tidak sepele, sebab akan menentukan kesiapan dan kinerja yang bersangkutan saat menerima pekerjaannya. Harus dipahami, bahwa mutasi tugas, termasuk promosi, memerlukan penyiapan dan tidak asal pindah saja. Memindah bidak catur saja, perlu perhitungan cermat. Apalagi memutasi orang. Perlu penyiapan dan diantaranya dilakukan melalui training atau pelatihan.

Jika persiapannya tidak baik, maka yang terjadi adalah “cacat produksi”. Orang menerima penugasan baru tetapi tidak sesuai dengan kapasitasnya dan tidak memperolah penyiapan yang baik. Sehingga jangan salahkan yang bersangkutan dia dia gagap dalam melakukan pekerjaannya, dengan konsekuensi penurunan kinerja dan ataupun muncul kesalahan-kesalahan saat melaksanakan tugasnya.

Baca Juga  Outbound Training Profesional di Sampit

Dalam pengelolaan kepegawaian di instansi pemerintah, dahulu ada istilah Daftar Urut Kepangkatan (DUK) dan dikduk. Dikduk itu istilah bahwa seseorang dididik dahulu sebelum menempati sebuah kedudukan atau duduk dalam sebuah jabatan. Yang sayangnya, oleh orang yang tidak mengerti konsep aparatur negara, ketentuan ini kemudian diganti dengan suatu acuan yang sangat subyektif yang dampaknya cukup signifikan dalam keharmonisan hirarki di birokrasi pemerintah.Terutama di daerah.

Ada pula masalah lain, yakni  sebenarnya pola promosi dan mutasinya telah dibarengi dengan penyiapan yang baik. Artinya kompetensi dan kepatutan seorang pegawai ketika menyandang kedudukan baru sudah oke punya. Semua syarat sudah terpenuhi. Semangat kerja pun mantap dan jos. Namun…. Ketika dia bekerja, situasi kerja yang dia hadapi sangat tidak mendukung. Bisa jadi sarana prasarana kerja yang tidak layak, hubungan kerja yang bermasalah, hingga yang paling banyak terjadi: atasan yang semau gue!

Ini kasus terbesar. Banyak kalangan generasi milenial… dan lebih banyak lagi pada generasi setelahnya (generasi Z) yang resign di perusahaan gara-gara atasan yang seenaknya ini. Ini dapat membuat seorang karyawan yang tadinya berprestasi atau berkinerja bagus ditempat sebelumnya, menjadi menurun atau bahkan memble ditempat baru.

Disinilah pentingnya kepemimpinan atau leadership dalam suatu organisasi.  Bukan apa-apa. Kepemimpinan yang buruk berpengaruh 80% terhadap keberhasilan organisasi. Kepemimpinan akan juga akan berpengaruh kepada budaya (culture) organiasi, pada manajemen organisasi,. Termasuk pada pola-pola komunikasi yang terbangun dalam organisasi itu.

Paling mudah diobservasi adalah ketika mutasi atau promosi itu adalah penempatan pimpinan unit kerja yang tidak kapabel. Unit kerja yang tadinya baik-baik saja, menjadi bermasalah dan tidak harmonis setelah pimpinannya diganti. Inilah yang disebut “cacat pemakaian” itu. Karyawan yang baik menjadi berulah dan menurun kinerjanya justeru karena perlakuan pimpinannya.

Baca Juga  Kepemimpinan dan Kultur Organisasi

Ini bisa terjadi …… dan jika terjadi pada perusahaan atau organisasi Anda, maka paling baik adalah menumbuhkan keberanian untuk mengoreksi diri: benarkah sudah yang saya lakukan? Sebab hal ini akan menimbulkan tanda tanya besar mengenai pola dan prosedur mutasi ataupun promosi yang terjadi. Termasuk kecurigaan – bahkan dari bawahan- adanya kepentingan non-teknis, termasuk transaksional, atas apa yang terjadi.

Orang juga percaya, bahwa kualitas pejabat yang diangkat adalah cermin kualitas yang mengangkatnya.

Wallahu ‘alam.

Perlu narasumber untuk training karyawan? Sila hubungi Borneo Development Centre. Hubungi kontak kami untuk informasi lebih lanjut.

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *