Sejarah CSR

Pelatihan CSR, Sampit, Kalteng

Perjalanan melintasi jaman dan geografis CSR (corporate social responsibility) lumayan panjang dan berilku. Prakteknya di setiap masa dan wilayah pun tidaklah sama. Ada negara yang menekankan CSR sebagai voluntary (kesukarelaan) da nada pula yang menerapkannya sebagai kewajiban (mandatory) seperti halnya di Indonesia. Pola-pola CSR masing-masing perusahaan pun tidak sama. Bahkan pada perusahaan yang sama, di wilayah yang berbeda, konsep CSR-nya tidak sama. Sebab pola atau metode CSR yang sukses di satu tempat, belum tentu sukses di tempat lain.

Namun demikian, sejarah CSR menunjukkan adanya kesamaan prinsip dalam operasional program CSR. Dan pada kesempatan ini, kita mencoba menelaah sejarah dan perkembangan CSR untuk menjadi pemahaman kita bagaimana mengelola CSR perlu menyesuaikan diri dengan situasi dan perkembangan yang terjadi.

Cerita CSR dimulai awal abad 19 yang saat itu lebih cenderung sebagai kegiatan phylantropi dari orang-orang kaya. Sejarah mencatat CSR mulai berkembang ketika  Andrew Carnegie (1835-1919) menantang orang kaya berkontribusi terhadap kaukus sosial.  Selanjutnya pada akhir 1800-an John D Rockefeller, pengusaha minyak Amerika yang konon menguasai hampir 90% pasar minyak AS,  ikut menyumbangkan lebih dari setengah miliar dolar untuk lembaga amal.  Bahkan dii masa tuanya, Rockefeller lebih fokus mendirikan lembaga amal sebagai bentuk kepedulian sosial dalam bidang kesehatan dan pendidikan.

Pada 1914, kemudian Frederick Goff, bankir ternama di Cleveland, mendirikan Cleveland Foundation. Yayasan ini didirikan memberi kesempatan bagi komunitas untuk mendapatkan hadiah dari donor miliarder.  Hingga pada 1940-an, banyak industri, bukan hanya pemilik atau pemegang saham, memberikan dukungan bagi lembaga amal.

Pada tahun 1948, istilah community development digunakan  untuk mengganti istilah mass education . Pengembangan masyarakat merupakan pembangunan alternatif yang komprehensif dan berbasis komunitas yang dapat melibatkan pemerintah, swasta, maupun oleh lembaga swadaya masyarakat. Beberapa alternatif pendekatan yang pernah terjadi di Amerika Serikat terkait dengan pengembangan masyarakat ini, antara lain : pendekatan komunitas, pendekatan pemecahan masalah, pendekatan eksperimental, pendekatan konflik, pengelolaan sumberdaya alam, dan perbaikan lingkungan masyarakat perkotaan.

Baca Juga  Workshop Intergasi CSR dan Pembangunan Desa, Kotim, Kalteng

Howard R. Bowen dalam bukunya:“Social Responsibility of The Businessman” dianggap sebagai tonggak bagi CSR modern. Dalam buku itu Bowen (1953:6) memberikan definisi awal dari CSR sebagai :“… obligation of businessman to pursue those policies, to make those decision or to follow those line of action which are desirable in term of the objectives and values of our society.” Definisi CSR yang diberikan Bowen memberikan pengaruh besar kepada literatur-literatur CSR yang terbit setelahnya. Bowen pun lantas disebut sebagai Bapak CSR.

Perusahaan pertama yang mengadopsi CSR dalam kebijakan perusahaan adalah Johnson & Johnson yang didirikan oleh Robert Wood Johnson, yang membangun kredibilitasnya pada 1943. Sejak 1960-an, CSR mulai menjadi perhatian pengusaha dan industri. Lalu CSR mulai dilaksanakan secara massal di AS pada 1970-an ketika konsep “kontrak sosial” antara industri dan masyarakat dideklarasikan oleh Komite untuk Pembangunan Ekonomi pada 1971. Kontrak sosial itu berdasarkan ide bahwa fungsi bisnis adalah perhatian publik dan industri juga memiliki tanggung jawab untuk melayani kebutuhan masyarakat.

Di Indonesia CSR menjadi mengemuka pasca terbitnya Undang-Undang Penanaman Modal dan Undang-undang Perseroan Terbatas. Sejak adanya kewajiban melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan tersebut, CSR menjadi perhatian banyak pihak di Indonesia, meskipun sebagian besar lebih bicara pada aspek bantuannya dan kurang memahami prinsip maupun maksudnya.

Salam santun membumi.

Anda atau perusahaan Anda memerlukan pelatihan tentang CSR maupun community development? Perlu mengintegrasikan CSR dengan pembangunan desa ataupun Bumdes? Silakan menghubungi kontak kami. Borneo Development Centre. Tim kami siap bekerjasama untuk memberi nilai lebih bagi bisnis Anda. Baik di Sampit, Kotim, Kalteng, Kobar, Seruyan, Katingan. Lamandau, Sukamara, Kuala Kapuas, Pulang Pisau, Palangkaraya. Banjarmasin, Martapura, Pleihari, Marabahan, Amuntasi, Samarinda, Kaltim. Barabai Kalsel. Ataupun di daerah lainnya di Indonesia, Malang, Magelang, Manado, Batu, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta. BDC : Komunikasi, Kepemimpinan, dan Manajemen. NormanSyah : Inspiratif, Praktikal, dan Humanis.

Baca Juga  Forum CSR : Apa kabar?

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *