Kinerja Organisasi dan Outbound

Outbound Sampit, Kalteng

Ada pameo lama yang menyatakan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan. Dan konon dinasaurus yang raksasa dan kuat luar biasa itu pun harus punah lantaran tak mampu beradaptasi dengan perubahan. Maka organisasi yang dapat bertahan, pada akhirnya bukanlah organisasi yang mapan melainkan yang adaptif terhadap perubahan. Inilah yang menjadi kekuatan raksasa elektronik asal Korea Selatan, Samsung.

Hal yang sama juga berlaku bagi organisasi Anda, baik itu organisasi public semacam instansi pemerintah, apalagi bagi organisasi bisnis yakni perusahaan. Perubahan yang adaptif harus dijalankan melalui kepekaan dan inovasi. Gagal memahami apa yang terjadi dan gagal mengadaptasinya, menjadi beban dan dapat menggerus organisasi yang bersangkutan. Inilah yang disebut sebagai antisipasi atau sikap visioner dari kepemimpinan organisasi.

Pada kenyataannya, dalam organisasi selalu saja ada sikap dan perilaku dari pemimpin maupun karyawan yang menghambat kemajuan organisasi. Perilaku itu terkait erat dengan cara pandang, kebiasaan, dan kepentingan dari pemimpin dan karyawan tersebut. Sikap dan perilaku ini pada masa tertentu dapat saja sangat benar dan sangat dibutuhkan oleh organisasi, namun ketika masa berlalu dan perubahan terjadi, sikap dan perilaku lama yang tetap dipertahankan, dapat saja menjadi using dan merongsok.

Outbound, sebagai satu metode dari pembelajaran berbasis pengalaman (eksperiential learning) merupakan metode yang efektif dalam memberi pandangan baru dalam sikap pemimpin dan karyawan dalam sebuah organisasi. Namun demikian, sebelum lebih jauh, perlu kita pahami dahulu “enam ärena perubahan” yang membuat ketidakpastian, ketegangan, dan pertentangan kerap terjadi dalam perubahan sebuah organisasi (Silberman, 2016).

Keenam area perubahan tersebut meliputi Layanan pelanggan (customer service), Keselamatan (safety), Perbaikan Proses, Keragaman, dan Harapan peran. Dalam harapan peran misalnya, peran tradisional manajer dan karyawan memunculkan harapan yang jelas. Para manajer menjadi pemimpin dan para karyawan atau pegawai menjadi pengikut. Nah… dewasa ini karyawan didorong untuk menjadi pembelajar mandiri, untuk mengambil inisiatif yang lebih besar, dan diberdayakan untuk lebih banyak membuat keputusan sendiri. Sehingga peran manajer pun diharapkan untuk menjadi pendamping, pemimpin tim, dan fasilitator. Bukan lagi berperan utama sebagai pengontrol.

Baca Juga  Outbound Kalteng: Palangkaraya atau Sampit?

Dalam konteks ini, outbound dapat membantu perubahan dalam area tersebut melalui outbound training. Dlam hal ini langkah untuk mengubah sikap dan perilaku tersebut meliputi menciptakan keterbukaan, memajukan pemahaman, menimbang sikap dan prilaku lama, lalu bereksperimen. Hingga langkah kelima mendapatkan dukungan. Bagaimana melakukan hal tersebut? Sampai juga di kegiatan outbound bersama Borneo Development Centre.

So… kalau perusahaan atau instansi Anda memerlukan perubahan organisasi ataupun capacity building dengan outboutd, silakan menghubungi kontak kami. Tidak hanya training outbound, namun juga team building outbound atau pun gathering. Selain di Sampit, Palangka Raya, atau Banjarmasin dan Kuala Pembuang, BDC juga melayani outbound dalam paket tour ke Bandung, Malang, Batu, Yogyakarta, Magelang dan daerah lainnya.

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *