Pembelajaran Online, Efektifkah?

Training dan Outbound, Sampit, Kalteng.

Selama Pandemi Covid19 banyak training, baik yang sifatnya reguler ataupun inhouse, dibatalkan atau ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Keadaan ini selain menghambat pengembangan sumberdaya manusia juga berdampak secara ekonomi terhadap industri training di tanah air. Namun, pembelajaran jarak jauh secara online atau pembelajaran daring, sebenarnya sudah lama dilakukan, bahkan sebelum terjadinya Pandemi Covid19.

Menurut Morris (1989), pola pembelajaran dikelompokkan ke dalam  empat  pola, yakni pola pembelajaran (tradisional 1), pola pembelajaran (tradisional 2), pola pembelajaran Guru dan Media,  serta pola pembelajaran bermedia.

Pada pembelajaran tradisional 1, menekankan pengajar atau trainer bertanggungjawab penuh untuk menanggapi keseluruhan proses pembelajaran, teknik dominan yang digunakan adalah ceramah. Pada pola tadisional 2 atau disebut juga dengan Pengajar-Media,  menekankan peran trainer atau fasilitator dibantu oleh media atau alat dalam kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran, misalnya saja power point melalui LCD Projector.

Pada pola ketiga yakni Media dan Peserta,  terdapat peran setara antara trainer dan media dalam menjalankan fungsinya untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran. Pada pola ini media dirancang sedemikian rupa untuk dapat menjelaskan materi secara baik, lengkap dan utuh. Sedangkan pada pola pembelajaran bermedia ini menekankan pada peran media seai sumber informasi utama dalam kegiatan pembelajaran dan sosok trainer secara fisik tidak hadir dan digantikan perannya oleh media.

Pola pembelajaran bermedia inilah yang kemudian kita sebut sebagai pembelajaran daring atau pembelajaran online. Apakah efektif? Tentu tergantung pada banyak faktor. Dari segi komunikasi, penggunaan media yang demikian variatif dan tampak realistik, keefektivannya hanya sekitar satu level di bawah komunikasi tatap muka. Apalagi jika dilanjutkan dengan video call atau sejenisnya.

Baca Juga  PELATIHAN DI DESA, KENAPA TIDAK?

Pada sisi trainer atau provider pelatihannya sendiri harus memiliki kemampuan menjalankan aplikasi yang sesuai, menyiapkan materi pembelajaran yang sebagus dan seefektif mungkin, serta kemampuan mengadaptasikan teknologi ini sesuai dengan beragam materi dan target pembelajaran. Sedangkan pada sisi peserta, maka diperlukan setidaknya adanya kemauan yang kuat untuk belajar dengan cara ini, memiliki perangkat dan akses yang memadai, menguasai penggunaan aplikasi untuk keperluan pembelajaran online, serta memiliki dukungan sumberdaya untuk lancarnya pembelajaran demikian.

Keefektifan pembelajaran online sebenarnya ada pada kesungguhan. Ya, kesungguhan trainer dan provider, serta peserta pelatihan atau pembelajaran. Sebab jika tidak, maka kelemahan pembelajaran online akan muncul. Misalnya saat ada tugas, dengan sangat mudah peserta mencontek sana sini atau malah meminta orang lain mengerjakannya. Hal yang sama jika trainer atau providernya tidak bersungguh-sungguh, bisa saja materinya dibuat asal-asalan atau tidak relevan, atau bahkan mengambil materi dari tempat lain secara serampangan.

Sebagai bangsa yang besar dan cerdas, kita selalu berbuat yang terbaik. Hal yang sama menjadi tekad lembaga pelatihan dan kursus di Republik Indonesia ini. Hal yang juga menjadi tekad BDC Training & Outbound, jika kelak kami juga masuk ke pelatihan online. Selamat Belajar dan Sukses.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Sampit, 2 Mei 2020.

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *