Mensinergikan UMKM dan BUMDes dalam Upaya Memajukan Ekonomi Kalteng (1)

Mensinergikan UMKM dan BUMDesa dalam Upaya Memajukan Ekonomi Kalimantan Tengah

Oleh :  Normansyah, M.Si, CPHCM*

 

RINGKASAN EKSEKUTIF

Perkembangan ekonomi Indonesia secara umum, dan terkhusus Kalimantan Tengah, mengalami tantangan yang cukup berat di masa pandemi Covid-19. Kondisi ini juga “memukul” pelaku usaha rakyat yang dikenal sebagai UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Menggerakkan UMKM akan menjadi strategis bagi ekonomi Kalimantan Tengah karena akan berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. Mensinergikan antara UMKM dan BUMDesa (Badan Usaha Milik Desa) akan menjadikan kekuatan UMKM di perdesaan menjadi satu dan kuat. Tantangan dalam resiliensi dan inovasi UMKM sebagai penggerak pemulihan ekonomi ini terletak pada tiga aspek utama. Pertama adalah bagaimana mensinergikan antara UMKM dan BUMDesa. Kedua, adalah bagaimana menggali potensi yang ada di desa dan menggerakkannya, dan ketiga adalah bagaimana membina dan mendampingi UMKM dan BUMDesa untuk dapat bergerak secara sinergis dalam pemulihan ekonomi di Kalimantan Tengah. Termasuk  mensinergikannya  dengan  program  CSR.

LATAR BELAKANG

Perkembangan Ekonomi Kalimantan Tengah selama pandemi Covid-19 mengalami pelambatan yang signifikan. Hal ini juga terjadi secara nasional maupun global.  Pelambatan ini antara lain dipicu oleh pembatasan kegiatan di luar rumah yang berdampak pada sektor perdagangan, pariwisata, dan transportasi.

Situasi pandemi COVID-19 memberikan dampak besar bagi UMKM di Indonesia. Meskipun pada awal pandemi, jumlah UMKM mengalami penurunan, terutama yang tergolong mikro, akibat pendapatan harian yang tidak menentu dan pemasukan yang hanya diandalkan oleh konsumsi masyarakat. Namun kemudian terjadi penambahan jumlah pelaku usaha mikro. Dengan mengesampingkan adanya rangsangan dari bantuan pemerintah, ada kemungkinan hal ini didorong oleh munculnya peluang usaha baru, menurunnya pekerjaan konstruksi.  dan atau dampak dari banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Di Kalimantan Tengah, berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM, sampai dengan September 2020 tercatat ada 40.623 UMKM. Jumlah ini sebagaimana dikutip RRI, kemudian meningkat menjadi 60.415.

Baca Juga  Apakah Team Building itu?

Terdapat beberapa sektor atau bidang usaha yang tetap bertahan di masa pandemi dan dapat menjadi pijakan awal dalam pemulihan ekonomi. Bidang usaha tersebut meliputi pertanian, perdagangan on-line, teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan, pengolahan makanan dan bisnis eceran, serta jasa layanan kesehatan dan obat-obatan. Sektor atau bidang yang tetap bertahan tersebut merupakan jenis usaha yang banyak digeluti oleh UMKM.

Pada sisi lain, diterbitkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberi peluang kepada pemerintah desa untuk menggerakkan ekonomi desa melalui Pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Terlebih dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa yang menempatkan BUMDesa sejajar dengang badan usaha lainnya. Hal ini dapat membukan BUMDesa bergerak lebih luas sebagai penggerak ekonomi di desa.

Sampai dengan 2019, jumlah BUMDesa yang ada di Kalimantan Tengah berjumlah 910 buah. Belum ada data yang lebih terkini yang dapat diperoleh. Jumlah ini relatif kecil dibandingkan dengan jumlah desa di Kalimantan Tengah yang mencapai 1.574 desa (BPS Kalteng, 2021). Berdasarkan data ini maka jumlah desa yang telah mendirikan BUMDesa di Kalimantan Tengah hanya 57,81 %. Dari jumlah tersebut, teridentifikasi yang aktif sebanyak 509 BUMDesa atau lebih kurang separuhnya saja.

Dalam hal ini terdapat dua tantangan sekaligus yang dihadapi dalam upaya pemulihan ekonomi di Kalimantan Tengah, terutama di perdesaan, yaitu bagaimana membangun sektor ril yakni mengembangkan usaha mikro dan kecil yang dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat, sekaligus membangun BUMDes yang kuat dan dapat menjadi “payung” untuk mengayomi dan menyatukan UMKM di Kalimantan Tengah. Apabila ini berhasil, potensi untuk memajukan ekonomi sangat besar. Sehingga langkah ini adalah sangat strategis dalam membangun perdesaan di Kalimantan Tengah. Dibandingkan yang bermukim di perkotaan, sebanyak  66,54 % rakyat Kalimantan Tengah bermukim di perdesaan.

Baca Juga  PROYEKSI USAHA DALAM BUMDES

*Ketua BDC Training

Bersambung…

Tulisan ini adalah bagian pertama dari tiga tulisan.

 

Jadi……. jika desa Anda atau organisasi Anda memerlukan pelatihan tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes/BUMDesa), atau berkaitan dengan integrasi CSR dan pembangunan desa, silakan menghubungi kontak kami. Baik yang ada di Sampit, Kotim, Kalteng, Banjarmasin, Kalsel, Pangkalan Bun, Kobar, Lamandau, Sukamara, Buntok, Barito Selatan, Barito Utara, Kapuas, Pulang Pisau, Barito Timur, Kuala Pembuang, Seruyan, Kasongan, Katingan, Pelaihari, Tanah Laut, Martapura, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan, Amuntai, Hulu Usai Utara, Kandangan, Hulus Sungai Tengah, Barabai, Palangkaraya, Kaltim ataupun daerah lainnya di Indonesia. Kami akan senang sekali bekerjasama sesuai kompetensi keahlian kami.

Sukses selalu.

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *