Therapy Psikosomatik, Sampit, Kalteng
Gangguan psikosomatik adalah keluhan fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, dan bukannya oleh alasan fisik yang jelas, seperti luka atau infeksi. Gangguan psikosomatik sebenarnya bukan penyakit. Akan tetapi karena mengganggu mekanisme kerja tubuh dapat menimbulkan keluhan tertentu pada bagian tubuh tertentu, sesuai dengan emosi. Gejala ini merupakan “sinyal” bahwa ada yang perlu dibenahi dalam pola hidup seseorang.
Gangguan psikosomatik dapat terjadi pada semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Munculnya keluhan psikosomatik pada seseorang biasanya diawali dari masalah kesehatan mental yang dialaminya, seperti takut, stres, depresi, atau cemas. Gejalanya sering tidak sembuh setelah dilakukan terapi medis misalnya dengan menggunakan obat-obatan farmasi. Kalaupun ada perbaikan, biasanya bersifat sesaat dan untuk mengatasinya harus diatasi faktor emosinya.

Menurut dr. Andri, sesuai dengan survei yang dilakukannya, setidaknya ada 10 gejala psikosomatis yang paling banyak dikeluhkan. Kesepuluh gejala tersebut meliputi jantung berdebar, perasaan tidak nyaman di lambung seperti kembung dan buang air besar tidak tuntas. Lalu nyeri di leher dan pundak. Merasa lelah padahal tidak melakukan pekerjaan apapun. Serta kurangnya energi alias merasa lemas.
Gejala lainnya adalah sering merasa pusing bahkan adakalanya disertai dengan sempoyongan (oleng). Sering bersendawa atau banyak gas, ujar bahasa kita banyak meriga. Telinga berdenging (pada orang tertentu, sebagai faktor bawaan alias genetik). Keluar keringat berlebih, serta sering gemetar atau menggigil alias terguncang.
Pada kasus yang lebih berat, gejala gangguan ini kemudian dianggap sebagai sakit. Ada yang terkait dengan mag, nyeri di bagian tubuh tertentu, kolesterol tinggi, bahkan stroke. Gangguan psikosomatik juga bisa berupa memburuknya penyakit fisik yang sudah ada akibat pengaruh kondisi psikis, emosi, atau pikiran.

Contoh kondisi fisik yang bisa diperparah oleh faktor psikis adalah sakit maag, psoriasis, eksim, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Penderita gangguan psikosomatik cenderung merasa khawatir berlebih meskipun gejala yang dialaminya tergolong ringan. Gejala psikosomatik umumnya muncul ketika penderitanya merasa stres, berada di bawah tekanan, atau saat beban pikiran meningkat.
Bagaimana mengatasi psikosomatik?
Selain memperbaiki pola pikir dan pola hidup, psikosomatik dapat diatasi dengan perbaikan pola makan. Membuat hidup lebih rileks dengan mengurangi banyak keinginan serta dengan lebih khusuk ibadah adalah cara mencegah dan mengatasi gangguan psikosomatik. Pada banyak kasus masalah hubungan (relationship) terutama dengan orang dekat, seperti pasangan, keluarga, dan rekan kerja adalah pemicu utama adanya gangguan psikosomatic.

Ada beberapa cara mengatasi gangguan psikosomatik. Misalnya psikoterapi, hypnotherapi, dan penggunaan obat-obatan misalnya antidepresan. Teknik lain yang efektif adalah penggunaan EFT (Emotional Freedom Technique) alias teknik penyelarasan emosi.
Borneo Development Centre juga melayani penanganan keluhan gangguan psikosomatik dengan pendekatan EFT, hypnotherapy, dan NLP (Neuro-Linguistic Programming). Silakan hubungi kontak kami untuk informasi lebih lanjut.