Bahasa Rakyat dan Bahasa Langit

Training Komunikasi, Sampit Kalteng.

Kenapa pemerintah bisa gagal? Jawabnya sederhana: kurang informasi.  Ini menjadi hal pokok dan biasanya menjadi dasar ketika kita bicara dalam ranah ekonomi pembangunan. Padahal kan data banyak? Sebentar om…  Pertama apakah mereka yang mengelilingi para penguasa itu bisa “membaca” data. Apakah mereka suka menyebut “data-data” karena tak mengerti beda “datum” dan “data”.

Lalu bisakah mereka membedakan antara data dan informasi? Hahaha.. saya hanya sedang lebay saja dan menjadi baperan dengan berkelat-kelit dengan istilah. Hahaha … (lagi) sesungguhnya ini pun lagi-lagi retorika supaya saya terlihat agak sedikit pintar. Jadi jangan tersinggung. Jangan merasa tersindir apalagi. Sebab saya hanya bicara tentang diri saya. Tidak menyebut nama Anda, kan?

Realistisnya begini… Cie cie cie… pakai istilah asing segala. La iya,, kan saya sudah bilang.. supaya saya kelihatan agak sedikit pintar. Hahahahahaha… jadi baperan betulan saya. Sekali lagi ini saya, lo.

Gampangnya begini… kalau di statistik tertulis bahwa lama sekolah penduduk di suatu wilayah dibawah sembilan tahun, itu artinya gelar rata-rata penduduk di wilayah itu adalah SMPTT, alias SMP tidak tamat. Artinya, kalau ngomong ke masyarakat, gunakanlah bahasa yang dipahami oleh mereka yang tidak lulus SMP. Nggak usah pakai istilah asiang atau bahasa-bahasa akademis atau bahasa filosofis, atau bahasa motivator yang tinggi-tinggi. Alias pakailah bahasa rakyat saja, yang mudah dimengerti, Nggak perlu pakai bahasa langit yang tak terjangkau pemahaman masyarakat.

Akibat penggunaan bahasa langiit yang ketinggian ini adalah banyak program sosialisasi yang konon tidak  dipahami masyarakat. Nggak nyambung. Akibatnya rakyat dianggap membandel. Padahal bukan membandel, tetapi nggak ngerti. Ini tidak hanya ditemui dalam program yang menyangkut masyarakat. Kita lihat saja istilahnya… sosialisasi, promosi, bahkan  ada yang menggunakan istilah sinkronisasi.  Dan hebatnya… tiap instansi punya istilah sendiri-sendiri. Alhasil rakyat malah bingung.

Baca Juga  Busana dalam Public Speaking

Ini pun masuk ke dalam dokumen-dokumen resmi, mulai peraturan perundangan (yang ini pun terbalik, mestinya kan ditulis perundangan peraturan…. hehehe…), dokumen perencanaan, surat-surat, hingga dalam visi misi kampanye. Seolah semua bangga kalau menggunakan bahasa tinggi yang melangit yang bisa jadi membingungkan yang mengucapkannya sendiri. Terutama kalau yang ngomong tinggi itu saya lo. Ha..ha.. saya bro.

Supaya artikel saya nggak jadi meroket karena ketinggian gaya dan bahasa. Sampai disini aja deh. Nggak usah baperan dengan tulisan ini, sepanjang nama Anda tidak saya sebut. Tetaplah berpijak di bumi dan tetaplah bicara dengan bahasa rakyat. Understand? Wkwkwkwkwk…..

Bagi Anda yang ingin belajar Public Speaking atau Teknik Presentasi, silakan menghubungi kontak kami. Lembaga Kami senang sekali bisa membantu Anda semua, baik pribadi, organisasi, perusahaan, ataupun instansi pemerintah. Baik di Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Sampit, Pangkalan Bun, Kuala Kapuas, Balikpanan. Martapura, Buntok, Malang, Banjarbaru,, Martapura, Manado, Makassar, Malang, Surabaya, Jakarta, atau pun kota lain di Indonesia. Bisa private, inhouse training, ataupun online. Di Kalsel, Kalteng, Katim, atau provinsi lainnya.

Ok. Salam hebat bermanfaat.

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *