Public Speaking Sampit, Kalteng.
Hal yang paling banyak ditanyakan peserta dalam workshop public speaking adalah perasaan blank. “Tiba-tiba pikiran saya mendadak kosong. Ide, perkataan, dan semua yang tadi dikonsep, direncanakan, tiba-tiba buyar. Yang tadinya gugup tambah gugup. Nervous jadinya.” Begitulah yang banyak dikeluhkan peserta. Dan itu bukanlah hal yang aneh atau memalukan. Kejadian tersebut bisa menimpa siapa saja. Benarkan?
Blank sebenarnya bagian dari proses mental, dimana terjadi terhapusnya memory (delleting) dalam benak kita. Itu terjadi karena adanya kegugupan sehingga kecemasan dan atau perasaan khawatir menutupi ingatan kita. Terjadi karena pikiran bawah sadar menganggap sesuatu yang kita persiapkan atau materi yang akan kita sampaikan itu sebagai beban. Dalam kapasitas yang lebih kuat dianggap sebagai ancaman. Sehingga diputuskan untuk dihapus. Alhasil, ketika pikiran sadar mencoba mengaksesnya, memori itu terhapus. Jadilah blank.
Disinilah makna penting perlunya 3P dalam mengatasi gugup dalam Public Speaking. Jadi selain membuat diri rileks dan tenang, lakukanlah 3P. Masih Ingatkan? Kalau lupa, silakan cari diartikel lain di web ini. Dengan 3P yang sudah mantap maka penguasaan kita pada diri kita ketika tampil berbicara di depan umum menjadi lebih yakin dan tenang. Kalau kita sudah menguasai diri, yakni bagaimana mengubah gugup menjadi pede, maka tantangan berikutnya hanyalah bagaimana menguasai materinya.

Jika dalam mengatasi gugup rumus sederhananya adalah 3P, dalam menguasai materi public speaking rumusnya adalah 3B. Apa itu? “Tiga Be” itu tiada lain adalah Berlatih, Berlatih, dan Berlatih. Berlatih di setiap kesempatan, berlatih di setiap tempat, berlatih dimana pun pada setiap kesempatan. Membaca materi, mendalaminya, lalu mencoba membawakannya. Berlatih saat santai atau ada waktu luang, berlatih saat berkendara, berlatih di kamar mandi, berlatih di kamar di depan cermin, bahkan boleh dilatih dengan berbicara di setiap ada kesempatan.
Dapat juga berlatih dengan menggunakan teknik NLP (neuro-linguistic programming) yang disebut perceptual position. Dalam teknik ini, kita terlebih dahulu menjadi orang pertama atau diri kita sendiri yang akan menjadi pembicara. Setelah menyampaikan materi yang ingin kita bawakan, seolah-olah kita sedang tampil. Maka kita menjadi orang kedua yakni audiens yang menyaksikan penampilan kita. Kita pun mencoba mengoreksi bagaimana penampilan tersebut. Setelah itu kita pun menjadi “orang ketiga” yang mengamati proses interaksi dan latihan dari orang pertama dan kedua tadi. Lalu kita koreksi dimana yang harus diperbaiki. Demikian diulang-ulang sampai kita merasa sudah bagus.
Bagaimana prakteknya? Bisa kita coba saat workshop. Yang pasti… dalam workshop Public Speaking di BDC Training, persoalan antara mengubah gugup menjadi pede dan bagaimana menguasai materi itu ada dalam sesi yang sama yakni sesi subject mastery. Jadi…jangan sungkan untuk bergabung di kelas Public Speaking kita. Baik yang di Sampit, Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, atau pun Anda yang di kota lainnya di Indonesia.
Terimakasih sudah berkunjung ke website kami.
Salam hebat bermanfaat.