Public Speaking Sampit, Kalteng.
Busana dalam public speaking masuk dalam materi tentang showmanship, alias bagaimana sebaiknya seorang pembicara publik menampilkan dirinya saat beraksi. Jadi selain postur, gesture, dan voice (vocal, o gap, intonasi, clarity, dan energi), pemilihan busana adalah hal yang penting sekali dalam public speaking.
Bayangkan saja ketika seorang pembicara salah kostum? Selain tidak nyaman dan tidak serasi dengan audiens, pembicara publik juga merasa salah tingkah. Misalnya saja dia datang dengan seragam formal memakai stelan jas dan berdasi, sementara audiens dan para pimpinan di organisasi yang mengundangnya, misalnya perusahaan, memakai pakaian casual. Atau malah memakai pakaian olahraga. Barabe kan?
Disinilah pentingnya seorang pembicara publik mengetahui dalam rangka apa dia diundang ke sebuah acara. Konteks acaranya apa dan pesertanya dari kalangan mana saja. Tentu beda ketika harus bicara di depan staf atau karyawan biasa, dengan audiens yang levelnya sudah manajer atau lebih tinggi lagi. Demikian juga dengan waktu dan tempat pelaksanaan acara, jumlah peserta, dan sebagainya. Informasi ini harus difahami oleh seorang pembicara publik. Bukan hanya berkenaan dengan persiapan materi dan persiapan strategi, tetapi juga berkenaan dengan busana yang dipakai. Artinya, dalam artikel ini kita lebih luas berbicara soal kerapian berpakaian, tetapi lebih pada jenis busana yang dikenakan.
Dalam hal ini, seorang public speaker, tentu saja harus menyesuaikan pakaian tampilnya dengan para peserta. Menyesuaikan bukan berarti menyamakan atau bahkan seragam dengan peserta. Menyesuaikan disini artinya mengikuti konteks dan berusaha membangun kepercayaan atau trush dari audiens. Jangan sampai karena masalah pakaian yang tidak sesuai… terjadi hal-hal yang kurang mendukung suksesnya kegiatan.

Seorang pembicara publik, seyogyanya berpakaian satu level lebih tinggi dari kebanyakan audiens. Satu level itu maksudnya begini. Kalau sebagian besar peserta hadir dengan baju kerja kemeja resmi (hem). Pembicara public memakai busana berupa baju kemeja plus jas atau blazer. Kalau kebanyakan peserta datang dengan memakai baju batik lengan pendek, maka pembicara publik memakai batik lengan panjang. Atau jika hadirin banyak yang memakai pakaian batik lengan panjang maupun lengan pendek, maka pembicara publik memakai batik juga dengan kualitas yang lebih berkelas atau lebih bagus.
Kenapa demikian, hal ini menyangkut kewibawaan ataupun juga kepercayaan. Kenapa hanya satu level lebih tingginya? Sebab kalau terlalu tinggi, akan membuat jarak komunikasi dengan audiens terlalu jauh. Dalam komunikasi, kesamaan itu penting. Dengan kata lain, kewibawaan pembicara juga penting pada satu sisi, namun pada sisi lain tetap juga dibangun kedekatan dengan audiens, termasuk dalam hal berpakain. Naik satu level lebih tinggi dalam berpakaian, dari kebanyakan audiens atau peserta, biasanya akan menempatkan level kita setara dengan para pimpinan di organisasi yang mengundang kita. Disinilah.. kita menempatkan diri.
Saran lainnya, berpakainlah dengan warna cerah dengan padanan yang sewajarnya. Hindari warna yang terlalu mencolok atau berlebihan. Sebab tanpa itu pun, kita bakal menjadi pusat perhatian. Gunakan assesoris yang sesimpel mungkin dan sesuai konteks acara, serta tidak mengganggu kenyamanan atau gerakan kita……
Oke, terimakasih telah bertandang ke website kami. Jangan ragu menghubungi kami, BDC Training, untuk berkenaan dengan public speaking. Termasuk juga dalam keterampilan komunikasi lainnya, seperti presentasi efektif, MC, mengembangkan komunikasi di organisasi Anda, atau yang lainnya.
Sukses selalu. Salam hebat bermanfaat.
Public Speaking Palangkaraya. Public Speaking Banjarmasin. Public Speaking Banjarbaru. Public Speaking Kalsel. Public Speaking Samarinda. Bumdes Kalteng. Bumdes Sampit. Outbound. Leadership. Personal Development. Motivasi. LDKS.