Menilai Visi Daerah dalam Kerangka SMART

Pelatihan Sumberdaya Manusia, Sampit, Kalteng

Mengevaluasi visi daerah bukan sekadar membaca janji manis, tapi memastikan visi tersebut layak dan dapat diwujudkan. Salah satu metode yang paling efektif adalah menggunakan kerangka SMART: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound. Visi yang Spesifik harus jelas, tidak ambigu, dan mendeskripsikan secara detail apa yang ingin dicapai. Misalnya, “meningkatkan pendapatan per kapita sebesar 20%” jauh lebih baik daripada “meningkatkan kesejahteraan masyarakat”.

Aspek Measurable memastikan kemajuan bisa diukur dengan indikator kuantitatif. Ini memungkinkan kita melacak pencapaian dan mengidentifikasi kegagalan sejak dini. Visi harus Achievable, artinya realistis dan bisa dicapai dengan sumberdaya yang ada, baik dari segi anggaran, SDM, maupun teknologi. .

Selanjutnya, visi harus Relevant, selaras dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat serta tantangan yang dihadapi daerah. Terakhir, aspek Time-bound menetapkan batas waktu yang jelas untuk pencapaiannya. Tanpa tenggat waktu, sebuah visi hanyalah angan-angan tanpa arah.

Dengan menerapkan kerangka SMART, kita bisa mengubah visi daerah dari sekadar retorika politik menjadi rencana aksi yang konkret dan terukur. Ini membantu masyarakat dan pihak terkait untuk memantau kinerja pemerintah daerah dan memastikan akuntabilitas. Jadi, saat pastikan visi tersebut memenuhi kelima kriteria SMART.

Ketika suatu daerah membuat visi: Membangun Masyarakat Adil Makmur, Lestari dan Berkeadaban. Maka visi ini cukup menggelitik. Pertama karena “membangun” adalah proses bukan tujuan, kecuali jika daerah itu selama periode visi itu, hanya berproses saja dan tidak bermaksud mewujudkan visi itu. Padahal visi adalah kondisi real yang diharapkan terwujud pada masa sesuai waktu yang diharapkan.

Kedua, bagaimana mengukur adil dan makmur? Komponen apa yang harus dijadikan landasan. Okelah, jika merujuk makna adil dalam konsep Islam, bahwa adil itu adalah sesuatu ditempatkan pada tempatnya dan tidak adanya kesewenang-wenangan, maka bagaimana misi dan program daerah  mewujudkan ini? Termasuk jika dikaitkan dengan perlakuan adil kepada mereka yang diperkotaan dan pedalaman dalam konteks “kue pembangunan”. Atau apakah dalam karir ASN sudah diterapkan berdadasarkan kinerja dan kapasitas, ataukah hanya berdasarkan selera kekuasaan? Atau bagaimana daerah menegakkan keadilan berdasar supremasi hokum?Akan lebih rumit lagi jika bicara “makmur”. Bagaimana mengukurnya? Ukuran apa saja yang menjadi patokan? Dapatkah visi itu dicapai dalam lima tahun?

Baca Juga  Refleksi 69 Tahun Kotawaringin Timur

Berkeadaban, ini menjadi suatu fenomena sendiri, yang tampak mulia tetapi bisa jadi ambigu. Apa ukurannya, bagaimana penerapannya, dan bagaimana mencapainya dalam bentuk misi dan program yang akan dilaksanakan.  Sementara kata adab sendiri berasal dari istilah Islam yang memiliki makna leih dari sekedar sopan santun Adab adalah cerminan hati dalam perilaku seseorang yang memuat rasa hormat, kerendahan hati, dan ketulusan sikap. Adab itu bagian dari akhlak.

Ketiga, antara visi, misi, dan program kerja yang termuat dalam berbagai dokumen pembangunan, sudah semestinya selaras dan berkesinambungan. Apalagi jika mencantumkan kata “lestari” yang merupakan bentuk lain dari isrilah sustainable development alias pembangunan berkelanjutan.  Konsekuensi dari konsep ini adalah generasi yang akan datang menikmati sumderdaya alam dan lainnya, sama seperti yang dinikmati generasi saat ini. Sesuatu yang sangat mulia, namun bagaimana melakukannya?

Visi dalam pembangunan daerah dicantumkan dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Ia bukan hanya panduan bagi pembangunan (dan juga penganggaran) suatu daerah dalam lima tahun ke depan. Ia adalah janji kampanye yang terwujud dalam dokumen perencanaan. Sekaligus menjadi buku rapor, tentang kinerja atau capaian dari sebuah kepemimpinan. Sehingga visi harus realistis untuk dijalankan dan diraih. Ini menujukkan kualitas visi tersebut dan bagaimana mereka yang ada di baliknya.

Jika instansi atau perusahaan Anda memerlukan training atau outbound, sila menghubungi kontak kami di Borneo Development Centre.  Dengan kompetensi dan pengalaman kami, Kami akan senang sekali membantu.

Norman Ahmadi

Diploma in Strategic Managemen (IBMI)

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *