You Pay Peanuts You Get Monkey

Pelatihan SDM Sampit, Kalteng

Bagaimana pun, nyawa dari sebuah organisasi adalah manusia. Dengan kata lain, yang membuat sebuah organisasi, baik organisasi public (baca: instansi) maupun private (baca: perusahaan), menjadi hidup, adalah manusianya.

Dan bicara soal manusia, maka bicaranya tidak hanya soal materi saja, akan tetapi juga berbicara tentang perasaan, harapan, semangat, dan kebutuhan lainnya tentang manusia secara keseluruhan sebagai sebuah pribadi yang utuh.

Yang sayangnya, tidak semua pimpinan, entah itu pemilih perusahaan, manajer, atau bahkan pimpinan instansi pemerintah, hingga kepala daerah, memiliki kesadaran pemahamam bahwa ia sebenarnya tidak hanya memimpin sebuah organisasi secara fisik. Apalagi hanya berkenaan dengan hirarki dan kewenangan, namun sebenarnya, sejatinya, mereka memimpin manusia. Mengelola hubungan manusia dengan segala interaksinya.

Bahwa tidak semua pimpinan belajar tentang teori Maslow, ataupun banyak pimpinan yang pernah belajar kepemimpinan, namun telah beku rasa kemanusiaannya, menyebabkan mereka tidak menghargai akan kemanusiaan dari setiap individu yang berada dalam organisasi yang dinakhodainya. Pemimpin yang ambisius, kelewat mengejar duniawi, dan punya spritualitas yang rendah, memang cenderung memahami manusia dan memperlakukan mereka yang dibawahnya bukan sebagai manusia.

Kebanyakan mereka hanya menganggap bahwa orang yang dibawah kendalinya hanyalah alat untuk mencapai tujuannya. Dalam benak mereka, manusia tidak ubahknya seperti mesin atau perkakas lainnya yang menjadi alat ataupun bendawi lainnya, yang dinilai secara kebendaan.

Ini tentu saja berdampak buruk bagi kinerja organisasi secara keseluruhan maupun dalam jangka panjang. Dan pemimpin pada level rendah ini, pada bagian selanjutnya kita akan membahas lima level kepemimpinan, lebih memuaskan emosinya. Menyandarkan penilaian individu dalam organisasinya bukan pada standar yang ditetapkan, namun hanya emosional, berdasarkan like and dislike (suka atau tidak suka) semata.

Baca Juga  KITA TIDAK BISA TIDAK BERKOMUNIKASI

Bahkan yang paling brutal dan merupakan criminal adalah berlakunya sogok menyogok atau bentuk transaksional lainnya dalam penerimaan pegawai ataupun dalam promosi dan mutasi pegawai dalam lingkup organisasi tersebut. Ini menjadi indikasi penting dari buruknya mentalitas dan pengelolaan kepegawaian di organisasi tersebut, yang menggambarkan kualitas moral dan kualitas mental dari pimpinan puncak organisasi yang bersangkutan.

Bagaimana pun, orang menilai seseorang dari organisasi yang dipimpinnya dan kinerja organisasinya. Semua orang tahu, kepemimpinan organisasi itu menular. Watak dan kualitas seorang pimpinan akan ditiru oleh anak buahnya. Dan itu sangat mudah dilihat dari layanan, kinerja, dan bagaimana promosi atau pola pengangkatan pejabat di sebuah organisasi dilaksanakan. Publik sangat cerdas dan segera memahami hal yang sebenarnya terjadi.

Meski demi kepentingan tertentu mereka diam, tetapi dalam organisasi yang bersangkutan maupun dalam public, bisik-bisik dan isu-isu berkembang begitu cepat membuat opini buruk dan sangat gampang tercermin dari kinerja organisasi tersebut. Meskipun mungkin, para pengeliling pimpinan berusaha memberi kesan kepada pimpinan organisasi tersebut, bahwa semua baik-baik saja.

Your pay peanuts, you get monkey. Tidak hanya bermakna, bahwa jika Anda membayar dengan kacang akan mendapatkan monyet. Lebih jauh bermakna, jika seorang pimpinan tidak menghargai keahlian anakbuahnya, termasuk senioritas dan kepatutan lainnya. Misalnya dalam promosi dan mutasi jabatan dalam organisasi itu. Sebenarnya itu adalah bagaimana pimpinan organisasi itu, sedang memamerkan kualitas dirinya kepada khalayak. Semacam pengumuman ke public, bahwa organisasi itu hanya dipimpin oleh seseorang dengan kualitas kacangan. Alias amatir. Parah kan?

Jadi jika organisasi Anda perlu pelatihan atau training, baik itu organisasi publik (instansi) maupun organisasi private (perusahaan), maupun komunitas, silakan menghubungi kontak kami. Baik itu pelatihan SDM, pelatihan komunikasi, leadership, dan manajemen, termasuk berkaitan dengan bumdes maupun pemerintahan desa. Baik di Sampit, Palangkaraya, Pangkalan Bun, Banjarmasin, Pelaihari, Amuntai, Martapura, dan kota lainnya di Indonesia. Baik di Kalsel, Kotim, Kalteng, Kobar, Kaltim, Manado, Malang, dan Kota lainnya di republik tercinta.

Baca Juga  Membangun Personal Branding dalam Public Speaking

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *