Kepemimpinan dan Kultur Organisasi

Leadership Training Sampit, Kalteng

Dalam banyak hal, termasuk dalam pelatihan, sering sekali kita temukan pentingnya sebuah organisasi meiliki perencanaan strategis, sehingga punya arah yang jelas. Ini terlihat pada perlunya menyusun visi, misi, dan tujuan organisasi secara jelas. Termasuk di dalamnya adalah adanya time line dan target yang terukur.

Namun demikian, bagaimana pencapaian sasaran sebuah organisasi tidak semata tergantung pada bagusnya apalagi bombastisnya, sebuah perencanaan strategis. Selain ketersediaan sumberdaya yang mendukung pencapaian tersebut, peran kepemimpinan sangat menetukan. Pemimpin dari sebuah organisasilah yang dapat mewujudkan visi dan misi organisasi itu menjadi tahapan-tehapan kerja yang praktikal sehingga pencapaian itu terwujud.

Dalam konteks ini, ada unsur penting yang kerap dilupakan oleh para pemimpin organisasi yakni peran budaya atau kultur sebuah organisasi. Edgar Schein mendefinisikan budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu, terutama ketika mereka belajar dan beradaptasi untuk mengatasi masalah eksternal dan internal dengan segala pertimbangan yang ada.

Nilai-nilai pelajaran yang didapatkan dari proses adaptasi tersebut akan menjadi pola-pola asumsi dasar yang diajarkan kepada para anggota baru sebagai cara yang benar untuk memahami, berpikir, mengambil keputusan, serta menghadapi segala tantangan yang kelompok atau organisasi tersebut hadapi.

Walau pun kadang dipahami bahwa budaya organisasi itudapat dikonsepkan seperti yang sering kita lihat pada banner atau tempelan tulisan di dinding-dinding kantor sebuah organisasi. Sejatinya, kultur organisasi didefinisikan atau dikonsepkan oleh perilaku kepemimpinan oleh pemimpin atau top eksekutif dari organisasi yang bersangkutan. Gampangnya, pegawai atau bawahan akan meniru perilaku pimpinan atau bos mereka. Dengan kata lain, pemimpin tertinggi pada akhirnya bertanggung jawab atas budaya organisasinya, termasuk etika dalam organisasi tersebut.

Baca Juga  MBA dalam Public Speaking

Bahwa secara individu pegawai atau bawahan secara individu bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Meskipun para pegawai atau bawahan digerakkan oleh seperangkat oleh nilai-nilai atau prinsip mereka sendiri, namun ketika urusan perut, kedudukan, dan kekuasaan menjadi taruhan. Banyak orang bersedia melakukan apapun untuk meraih jabatan atau kekayaan yang diimpikan. Sebaliknya terlalu sedikit orang yang punya nyali bagi mengambil resiko bagi diri dan keluarganya demi prinsip, demi nilai, dan terutama semangat anti korupsi. Inilah beda loyalitas dan integritas.

Disinilah menurut Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya Spiritual Company, peran stragis pemimpin. Agar pegawai bertindak sesuai prinsip sebuah organisasi sesuai prinsip. Sebuah organisasi harus dipimpin eksekutif yang bersungguh-sungguh membuat keputusan tidak hanya dalam batasan-batasan bisnis dan legal, tetapi juga batasan-batasan etis.

Dan sekali lagi… perilaku dan sikap pemimpin akan menentukan ke arah mana budaya sebuah organisasi. Perilaku pwegawai dan bawahan yang paling bawah sekalipun, menunjukkan perilaku pemimpin mereka.

Setuju? Salam hebat bermanfaat.

Jadi jika Anda ataupun organisasi Anda memerlukan leadership training alias pelatihan kepemimpinan, silakan menghubungi kami. Dengan pelatihan dengan metode asik dan dengan pendekatan NLP, in syaa Allah memberi dampak yang positif. Dengan kompetensi dan pengalaman kami, kita dapat bekerjasama untuk memberi nilai lebih bagi kita semua. Bisa di Sampit, Pangkalan Bun, Lamandau, Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Banjarbaru, Manado, Samarinda, Balikpapan, Kasongan, Kuala Pembuang, Malang, dan Kota lainnya. Pelatihan tidak hanya dapat dilaksanakan di kelas, tetapi juga di luar ruang dengan metode outbund (experiential learning). Di Kotim, Kobar, Kalteng, Kalsel, Kalbar, Kaltim, Sukamara, dan lainnya.

Author: norman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *